Minggu, 24 Februari 2013

tertampar

Merasa ditampar ? mungkin jawabannya iya


Ketika saya diuji dengan hal yang sebenarnya kecil, tapi rasanya seperti mendapatkan tamparan yang keras. Masalahnya sebenarnya begitu kecil yang memang tidak seharusnya menjadi besar. Tapi sayangnya, ego saya membuat hal kecil itu menjadi besar, dirasakan sangat besar untuk saya sendiri. Hal kecil itu bisa terjadi memang karena sifat ‘kebiasaan’ saya. Saya orang yang cukup bisa dibilang ‘pelupa’ parah, malas, tidak disiplin, dan bisa dengan mudahnya melupakan hal hal yang mungkin bagi orang lain penting saat saya sedang panik atau fokus pada tujuan saya.

Hari itu saya sedang asyik dengan dunia saya, menonton film Edison no haha, anggap saja saya sedang bermalas-malasan. Saya tidak mau menghiraukan apapun, sehingga saya melakukan kesalahan yang sebenarnya saya anggap kesalahan tersebut tidak perlu menjadi masalah yang besar. Setelah beberapa lama, saya sadar bahwa ada hal yang harus saya lakukan, tetapi saya terlambat!  Lagi lagi saya ‘lupa’. Mengerjakan pekerjaan yang belum selesai, lalu bersiap. Panik gara gara mendapatkan suatu kabar, lalu saya hiraukan apapun dan segera berfokus melakukan apa yang sebenarnya saya terlambat lakukan. Disinilah titik kesalahan yang saya lakukan hari itu dan menimbulkan masalah ‘kecil’ yang tidak perlu menjadi besar.

Masalah ‘kecil’ itu seketika dirasakan menjadi masalah yang besar bagi saya. Bukan karena saya mendapatkan masalah ‘kecil’ itu. Tidak lain karena saya tidak terbiasa menjadi orang yang cukup sabar menghadapi orang lain, saya terbiasa mengeluarkan ego saya sendiri. Dan menahan ego itu rasanya cukup membuat dada sesak. Dan sabar itu sulit untuk orang yang belum terbiasa seperti saya. Terasa “Dunia seakan runtuh” itu karena saya mempertanyakan kondisi ego saya itu, apakah saya cukup bisa bersabar selama beberapa waktu kedepan? Apakah saya mampu menjadi orang yang tertuntut? Apakah saya mampu? Apakah saya mampu? Apakah saya mampu untuk waktu yang lama? Dan pertanyaan itulah yang terus berputar-putar di fikiran saya yang menjadikan masalah ‘kecil’  terasa menjadi masalah ‘besar’.

Saya merasa hesitant, saya merasa inferior, saya merasa takut, saya merasa tidak memiliki kapabilitas yang cukup dan perasaan-perasaan lain yang membuat saya menjudge kalau saya tidak mampu.

Setelah pertanyaan apakah saya mampu? Itu terus berputar putar difikiran dan saya mendapatkan jawaban bahwa saya tidak mampu, muncul lagi pertanyaan kenapa harus saya?. Pertanyaan ini muncul mungkin disebabkan karena adanya akumulasi kejenuhan dari kegiatan sebelum-sebelumnya yang saya merasa gagal karena merasa orang-orang terlalu berpatokan dan terlalu mengandalkan saya, akumulasi dari kegiatan-kegiatan sebelumnya yang memforsir tenaga saya, akumulasi dari kegiatan-kegiatan sebelumnya yang menguras fikiran saya dan bahkan waktu saya.

Kenapa harus saya? Padahal saya merasa saya bukan siapa-siapa. Saya merasa saya orang yang tidak mampu. Seketika hari itu saya galau tingkat dewa. Dan memutuskan untuk ‘menghilang’. Dan kebutuhan untuk ‘menghilang’ itulah yang sulit.


Dan seketika saya memutuskan malam itu tidak pulang ke kontrakan untuk mencari ketenangan. Mohon maaf buat orang-orang yang malam itu nelponin dan ngesms tidak direspon dan menjadi khawatir gara gara saya :3 Ga ada maksud membuat khawatir, hanya sedang ingin ‘melupakan’ pertanyaan-pertanyaan yang membuat saya cukup melow seharian.

Tenang, saya menginap dikosan lupek alias rani dengan sedikit membuat kehebohan menjatuhkan motor dan menjatuhkan hape. Menurut fikiran saya, ketika saya berhadapan dengan orang yang tidak mengerti dengan masalah ‘besar’ saya tadi, mungkin saya akan berpura pura seakan tidak terjadi apa-apa, berusaha berperilaku se innocent mungkin dan setidaknya tidak semelow seperti sebelumnya. Saya cape bertindak melow, hanya itu.

Sampai tiba pada hari beikutnya, tapi saya masih menyimpan ke’melow’an itu. Hari itu saya asyik dengan kesedihan saya sendiri sampai sampai meninggalkan apa apa yang harus saya lakukan hari itu.


Saya butuh obat! Untuk meyakinkan saya dari ‘perasaan’ yang membuat saya melow tadi. Tidak seperti kebiasaan saya sebelum-sebelumnya yang mencari ketenangan dengan pergi ke pantai, gunung, tempat-tempat wisata, atau hal lainnya, siang itu saya memutuskan untuk menemui seorang teman. Seorang “ukhti” yang pertama kali saya kenal. Namanya nurhayati, teman saya sebangku dikelas X.5 (pacholita) di SMA Negeri 1 Tasikmalaya, yang sekarang sama-sama sedang  berjuang di jokja. Saya takjub dengan seorang nurhayati itu, dari dulu nurhayati tetaplah seorang ‘nuy’ yang saya kenal, semangatnya yang sangat tinggi dan ketangguhan dia menghadapi hidup. Dia yang memiliki semangat mengembalikan kejayaan islam yang pernah memimpin dunia, menjalankan islam secara kaffah. Hal yang sebelumnya mungkin tak pernah terbersit dipikiran saya. Cukup lama saya merampok ilmu-ilmu dari seorang nurhayati, dan melupakan janji saya untuk mengikuti majelis mas’ulin da’wy (MMD). Karena sudah maghrib, akhirnya saya meninggalkan kontrakan nuy untuk ikut MMD, meninggalkan dengan penuh kelegaan karena motivasi motivasi yang telah didapatkan.

Dijalan saya dapat sms dari nuy :

Bukan kesulitan yang membuat kita takut, tapi ketakutan yang membuat kita sulit. Jangan pernah menyerah untuk mencoba dan jangan mencoba untuk menyerah. Jangan katakan pada Allah aku punya masalah, tapi katakan pada masalah aku punya Allah... (ali bin abi thalib) semangaatt kawan :)

Sms itu.... sms itu lagi lagi membuat saya merasa tertampar, betapa saya memiliki semangat yang lemah.

Wake up dha!” saya mencoba membangunkan saya sendiri dari saya yang kemarin. Saya berusaha membangun kepercayaan diri saya sendiri bahwa SAYA BISA ! Saya mampu melakukannya, ada Allah, Bismillah. Dan saya sangat sadar, kalo saya bukan orang yang cukup memiliki kesabaran itu. Kalo kata kabir mah : “ridha itu harus belajar SABAR”. Baiklah, saya hanya butuh PEMBIASAAN untuk merubah hidup kedepannya, karena hidup yang terjadi hari ini berdasarkan keputusan yang saya  putuskan di hari yang lalu, sehingga saya tidak bisa merubah hari ini, yang bisa saya lakukan adalah membuat keputusan untuk hari esok dengan cara membuat keputusan hari ini.

“Tidak perlu memikirkan apa posisi kita saat ini, karena itu tidak penting. Kita dapat menjadi apapun atau menguasai keahlian apapun yang kita inginkan bila kita benar-benar menginginkannya, dengan cara membiasakan dan membentuk habits pada diri kita. Menjadikan yang luar biasa menjadi kebiasaan”

“Keahlian adalah hasil pilihan, latihan dan pengulangan pilihan-pilihan yang telah dibuat.”

-kutipan dari buku habits yang ditulis ust. Felix Y. Siauw-



Kegalauan itu hilang, dan tinggallah janji saya yang belum saya tepati, menghadiri MMD.

Ego saya malam itu masih tertinggal didalam diri saya :3 saya nekat untuk menyusul kawan kawan PH JMF di Shelter merapi ACT padahal itu sudah lewat waktu isya. Saya nekat untuk tetap berangkat, padahal ‘tadinya’ si alan ga jadi berangkat gara gara takut, sudah malam. Tapi saya tetap ingin berangkat, walaupun dilarang sama hanna karena katanya jalanannya sepi dan sudah malam. Saya nekat berangkat karena saya merasa saya sudah berjanji. Saya nekat ingin berangkat tanpa tau alamat tujuan. Disini titik kesalahan saya, lagi-lagi gara-gara ego  -_____-“

Setelah berdebat disms dengan si alan, ahirnya dia memutuskan untuk ikut nyusul ke MMD. Dan ceritanya kami tidak tau alamat tujuan. Dengan sotoy dan nekatnya kami berangkat, menuju shelter merapi yang dimaksud. Padahal hanna terus melarang untuk menyusul, dan saya menghiraukan larangannya. Perdebatan jalan pun saya lakukan dengan si alan. Dan tetap pada ego saya, menuju shelter merapi. Ahirnya, setelah menembus kegelapan jalanan  yang jujur ‘saya takut’ (bukan hanya hantu secara halus tapi hantu secara fisik yang membawa golok dan semacamnya) ahirnya kami sampai di shelter merapi. Saya turun dari motor, bertanya pada warga, maaf pak mau tanya ini shelter merapi ACT kan? Dan bapak-bapaknya menjawab BUKAN ! ini shelter merapi gondang, kalo ACT itu di pakem !, seketika frezze. Berasa “jedaaaaaaar” kena halilintar yang cetar membahana. “Terus gue mesti lewatin jalan yang tadi lagi gitu? Ogaaaah” pertarungan dalam batin. Mungkin karena waktu sudah malam dan bapak-bapaknya melihat wajah kami yang bingung, ahirnya si bapak ngasih tau “oh gini aja, dari sini kamu lurus, naik keatas terus, ada pertigaan belok kiri, luruuuus, sampe mentok balai desa, terus aja ikutin jalan, dan bla bla bla bla bla, nanti ketemu jalan kaliurang, nanti tanya lagi aja disana” sebenernya petunjuk jalan tadi ga langsung nancleb di otak saya, mungkin karena efek sudah malam dan ”rasa takut”. Yang ada dalam fikiran saya, bapaknya nunjukin arah ke jalan kaliurang dan mungkin saja itu jalan tercepat, saya sudah benar-benar ingin melihat jalanan yang ramai.

Baiklah, akhirnya saya mengikuti petunjuk jalan dari bapak-bapak di shelter gondang tadi. Dijalanpun saya menyalip motornya si alan, karena saya takut dibelakang. Mengikuti jalan, sempet ragu, tapi Bismillah meneguhkan hati kalo itu jalan yang benar dan akan baik-baik saja. Sampai dibelokan sebelum jembatan saya melewati segerombolan pemuda dengan botol-botol minuman kerasnya. Lagi-lagi berasa ditampar terus kena halilintar *hiperlebaynya. Saya takut setakut-takutnya. Saya berimajinasi kalo yang sedang berpesta tadi mengejar dan melakukan tindakan kriminal pada kami. Saya tancap gas si bude sekencang kencangnya diatas jembatan itu. Gak mikirin apa-apa, hanya lari menyeleamatkan diri. Sampai ditengah jembatan, saya lupa kalo saya sedang satu perjalanan denga si alan. Dan si alan belum terlihat muncul dengan motornya. Imajinasi saya semakin ngawur, si alan ditangkap sama pemuda-pemuda tadi -___- mau meninggalkan bingung, nungguin juga bingung, kalo nungguin terus si alan udah di tangkap, terus pemuda-pemuda mabok tadi ngejar saya gimana? saya dibacok gimana? Imajinasi saya semakin ngawur membayangkan yang sering terjadi disinetron. Huaaah itu benar benar menakutkan. Setelah rada jauh ahirnya dari kaca spion saya terlihat ada motor dibelakang yang mengikuti. Mau ngebut tadinya, dan terus bertanya tanya itu si alan atau pemuda mabok ngejar? benar benar membuat bingung. Nelpon hanna, sinyal selalu tututut. Kali ini saya benar-benar merasa ketakutan.

Sampai ahirnya nyampe di pertigaan, dan itu belum jalan kaliurang. Tapi setidaknya, disana jalanan terang dan ada tukang bakmi, fiuh, lega, disana juga saya sudah jelas terlihat yang dibelakang saya itu si alan dengan motornya. Alhamdulillah *ngusap keringet. Turun, nanya jalan sama orang-orang diwarung bakmi, dan berangkat lagi. Pada ahirnya kami menemukan JALAN KALIURANG ! kami turun kembali ke pakem, nelpon hanna, menanyakan jalan dan memberikan kabar. Saya sudah speachless dengan jalanan, sudah sulit menghafalkan jalan belok sana belok sini gara-gara nyasar mengelilingi cangkringan barusan. Tapi pulangpun ga ada siapa-siapa dikontrakan dan sayapun tidak bisa masuk kontrakan gara-gara kuncinya di ilangin sama susi. Galau. Berhenti dipakem untuk berdiskusi. Nyusul udah gak sanggup, pulangpun bagaimana?. Ahirnya saya nelpon mba ci, dan alhamdulillah mba ci baru balik ke kontrakan, saya lega saya bisa pulang *terharu.  Kami pulang dengan ke’speachless’an masing-masing. Sampai kontrakan ketemu mba ci yang heboh menanyakan kemana saya selama ini, berasa udah ilang seminggu padahalkan cuma  sehari semalem dan mendapat sms dari si albus yang mengkonfirmasi keselamatan saya sampai dikontrakan. Lagi-lagi berasa ditampar, dengan mudahnya saya mengeluarkan ego dan kenekatan saya, padahal itu membuat orang-orang disekitar saya menjadi repot gara-gara saya. saya baru sadar kalo saya sudah bikin orang-orang khawatir gara-gara ego saya. MAAF >.<

Minggu, 10 Februari 2013

penyesalan?

rasanya sangat sangat bahagia dapet liburan beberapa hari yang mepet di waktu liburan seperti ini untuk bisa berada di rumah. terdengar cukup miris mungkin, libur kuliah hampir satu bulan tapi saya hanya bisa pulang ga lebih dari 7 hari ;) *mungkin ini yang dinamain dilematika mahasiswi pengembara hahaha
sebelum saya pulang, saya masih harus bertugas mempersiapkan acara RAT XXXI kopma *salah satu alasan belum bisa pulang kemaren*, memegang menjadi koor acara itu bukan hal yang mudah, saya sendiri bingung, sementara orang-orang rumah terus menerus menelpon nyuruh cepet pulang, lagi-lagi mama sakit
bukan, saya belum pulang bukan karena saya menjadikan keluarga sebagai prioritas kesekian ataupun saya menghiraukan betapa pentingnya birul walidain
saya hanya mencoba menjadi seseorang yang menyelesaikan amanah, itu saja..
selama RAT pun saya sangat menikmati ketika dalam sehari saya bisa menelpon dan ditelpon orang-orang rumah lebih dari tiga kali, hal itu jarang terjadi, dan lagi lagi saya menikmati, aaah sungguh kerinduan kepada mereka betapa besar
menyesal menjadi seorang aktipis? hoho tentu tidak, menjadi seorang aktipis merupakan salah satu cara saya untuk menaikan level diri
menyedihkan? tentu tidak, tetep alhamdulillah saya bisa pulang sekarang, dan saya sangat menikmati romantisme kepulangan saya kali ini

saat ini, saya sudah berada dirumah selama 4 hari dan sisa 3 hari lagi
pengen nangis? hahaha cuma sedih aja *bentar bangeeet gewe dirumah, anak macam apakah gewe -___-

tapi jujur, saya sangat menikmati romantisme ini \^_^/
saya, ridha nuralia fauziah, anak pertama dari dua sodara, memiliki  adik yang bernama aniq najihan salma yang masiih duduk di bangku MI kelas 3, seorang kakak yang biasanya berantem dengan adiknya, seorang anak yang jarang dimanja seperti sibungsu, seorang anak yang ngeyel sama orangtuanya
kini, jauh dari orangtua dan selalu dapet kesempatan pulang mepet waktunya, membuat seorang ridha nuralia fauziah gak jauh beda dimanja sama si bungsu, diperhatiin terus sama mamah *sepatu couple sama mama :p*, akur banget sama adiknya *sumpah, aniq jadi baek banget ama gewe, nurut lagi ^^*, dan jadi engga ngeyel sama orangtua *rasanyaaa jadi ikhlaaas terus kalo disuruh atau diingetin sama orangtua*



"Ya Allah.., tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri." (Al-Ahqaf : 15)