Minggu, 09 Juni 2013

petualangan bersama para pemeran antagonis

cerita ini berawal ketika saya mau pulang dari jokja ke tasikmalaya. pada awalnya saya tidak mau memaksakan untuk pulang. tapi, ah, sudah lama sekali saya tidak pulang. terakhir kali saya pulang itu diliburan kemarin dan terakhir bertemu orangtua sekitar 2 bulan yang lalu saat mereka mengunjungi saya karena saya kecelakaan. dengan tekad yang bulat pada akhirnya, Saya harus pulang!
tapi tidak dengan kegiatan saya, banyak hal yang menjadi faktor faktor pendukung yang membuat kepulangan saya mundur, ada rapat lah, ada kumpul ini lah, ada kumpul itu lah, ada tugas lah, ada kuliah pengganti lah, aaah semua itu faktor penghambat saya untuk pulang.
tapi tidak dengan hari itu. hari itu ada kuliah pengganti dan kerjaan yang mesti diselesaikan. sempet galau sih untuk pulang atau tidak, antara waktu mepet dan masih ada kerjaan yang mesti dikerjakan secepatnya. oke, saya tarik nafas, berfikir, membuat rancangan, lalu membuat tekad, Saya harus pulang hari ini juga mboh pie carane! kerinduan saya terhadap keluarga sudah memuncak, dan saya khawatir akan sulit untuk pulang lagi, kegiatan dijogja nanti dikhawatirkan akan menyita waktu, sekarang, mumpung ada waktu dan kesempatan.
hasilnya? saya pulang tetap dengan membawa kerjaan-kerjaan yang harus di selesaikan dan cukup lumayan saya harus membopong tugas-tugas kuliah juga ke kampung halaman tercinta. itu sebagai konsekuensi saya memilih pulang, saya tidak bisa lari dari tanggungjawab. tanggungjwab itu suatu beban yang diberikan yang sangat menyakitkan secara terus menerus jika bebannya tidak dikurangi, maka dari itu kerjakanlah, niscaya beban tersebut akan berkurang sehingga tidak menyakiti dirimu.
pemeran antagonis pertama sudah kita temukan, sebut saja : Kerjaan dan TUGAS!
rancanganpun dibuat hari itu juga, setelah kuliah pengganti yang selsai pukul 2 siang saya harus mengerjakan kerjaan saya nempel nempel lembar aspirasi di kampus sampe jam setengah 3, terus ke kos buat beres-beres bentar lalu jam 4 tepat saya berangkat ke terminal, nyampe terminal jam 5 kurang, ngejar bus budiman yang berangkat ke tasik jam 5.
itu rencananya. kenyatannya pun ga jauh beda. saya tepat mengikuti rancangan pembagian waktu tadi. sayangnya saya terlalu ontime sepertinya, sehingga mengubah sedikit alur. begini ceritanya...
kuliah saya kelar sekitar jam 2  lebih beberapa menit. ke kopma beli peralatan buat bikin lembar aspirasi, kritik, saran buat JMF. setelah itu ke bulaksumur ngerjain dan nempel-nempelin. setengah 4 langsung balik ke kosan. jam 4 kurang lima belas menit baru nyampe kos karena di jalan beli lauk buat makan. tp nyampe kos ga sempet makan, langsung beres beres buat bekal perjalanan. sangat singkat dan cepat. hanya membawa pakaian ganti sebiji (ditasik udah ada soalnya), leptop, notes kecil, binder, dompet, qur'an, coklat, permen, buku, dan tentunya nasi yang masih panas dan lauk yang beli dijalan tadi. jaam 4 lebih 7 menit saya berangkat dari kosan menuju terminal. nyampe diterminal sekitar jam 4 lebih 40 menit (soalnya macet). nitipin motor di tempat penitipan motor menginap. terus lari lari ke ujung terminal menuju tempat tongkrongan bis budiman.
sebelum sampe di tempat tongkrongan budiman, hanya jarak beberapa bis saja, saya berhenti, sedikit ragu bis budiman masih ada atau tidak, karena bis budiman tidak terlihat terhalang oleh beberapa bis. dan kesalahan saya adalah *jeng jeeeeng* engga liat jam. ketika saya berhenti ada seorang laki laki yang udah agak menua (sebut saja kondektur bis) bertanya pada saya "mau kemana mba?" dan saya menjawab dengan polosnya "mau ke tasik pak". kemudian si kondektur tersebut menawarkan bisnya "ini bis juga mau ke tasik ko, ayo naik" dan dengan polos lagi saya menjawab "engga ah pak, saya naik bis budiman aja, biasanya naik bis budiman soalnya". agak kesal sepertinya dengan jawaban saya, dengan tipu muslihatnya si kondektur memanggil temannya yang cukup sabar pembawaannya, dan dengan santai temannya bilang "neng mau ke tasik? ih neng, ini bis mau ke tasik juga, budiman mah biasanya pagi, kalo yang sore mah udah berangkat". jelegeeeer jedaaaar, saya berasa kena halilintar, gimana caranya saya pulang. dengan tanpa melihat jam dan pikiran sempit saya ahirnya memutuskan untuk naik bis tersebut yang bernama bis a*a*in.
saya cukup shock ketika saya baru menaikkan kaki saya di bis tersebut. bis tanpa AC dengan formasi tempat duduk 3 kursi  dan 2 kursi. penuh sesak oleh penumpang. sangat kontras jika dibandingkan dengan kondisi bis budiman yang biasanya saya tumpangi ber AC, formasi tempat duduk 2 kursi 2 kursi, dan seringkali kosong sehingga 2 kursi biasanya untuk saya sendiri.
saya duduk dibagian tengah bus di formasi 3 kursi dan duduk ditengahnya. kursi sebelah pojok dekat kaca sudah di isi oleh seorang ibu ibu yang nampak nyaman nyender ke kaca dengan menghabiskan satu setengah tempat duduk sembari memeluk tas-tasnya. dan dia hanya bertanya "mau kemana?" lalu setelah saya menjawab dia tertidur dengan pulasnya.
tidak lama dari percakapan tersebut, sang supir naik dan mulai memundurkan bisnya. bis pun melaju melewati bis budiman yang sedang nongkrong di tempatnya. rasanya? rasa rasanya semua benda mengembang seperti balon dan siap untuk diledakkan. sangat merasa tertipu. ditambah harga bis sama, dengan fasilitas yang jauh berbeda. belum lama bis melaju, saya membaca tulisan dibagian depan bis, tulisannya yogya-bandung via puwokerto. langsung tepok jidat diri sendiri. nasib saya gimana? naik budiman aja yang langsung ke tasik biasanya 8 jam, apalagi kalo naik bis ini yang mesti keliling muter muter dulu ke purwokerta, bisa sampe 10 jam!
tidak lama kemudian, bis berhenti sebentar di gamping. duduklah seorang laki laki paruh baya, sepertinya lebih tua dari pada bapa saya sendiri. dengan kondisi 3 kursi dan satu setengahnya ditempati "putri tidur" tadi, saya benar benar ngerasa ga nyaman. sempit. punggung ngerasa sakit. karena posisi duduk ga bener dan terhimpit karena duduk di tengah.
oke, sepanjang jalan saya benar benar ingin menangis. air mata hampir saja bercucuran. bukan hanya karena kegerahan ga ada AC, tempat duduk yang sempit dan penuh sesak dengan penumpang lain, atau posisi terhimpit. saya ingin menangis karena saya merasa benar benar takut. pada perjalanan dari jawa timur saat liburan yang lalu, bis yang saya tumpangi ditserempet bis lainnya dan mengakibatkan saya diturunkan dari bis tersebut karena bis tersebut mengalami kerusakan dan pada ahirnya saya dan teman teman menaiki bis yang lain dengan posisi berdiri dengan waktu yang cukup lama. dan kejadian tersebut cukup membuat saya agak trauma naik bis, apalagi mengingat kondisi bis a*a*in yang seperti itu.