Selasa, 16 April 2013

cemburu dan rindu itu



saya merasa cemburu dan saya merasa rindu. saya tidak tau apakah saya wajar merasakan atau tidak seharusnya saya merasakan. Kedua rasa itu benar-benar sedang menghampiri. Keduanya datang, tiba-tiba saja, entah mengapa, tanpa sebab.


saya mulai merasa irihati. saya mulai merasa tidak senang. Dan saat cemburu, saya merasa menjadi tidak lebih istimewa. Dan itulah apa yang saya rasakan. Merasa cemburu. Dan cemburu itu datang begitu saja. Sebenarnya saya tidak ingin seperti ini. Cemburu itu tidak nyaman. Karena cemburu itu berarti merasakan lebih kurang daripada yang kita cemburui. merasa menjadi diri yang 'sakit'.

Rindu itu. Rindu itu datang setelah saya merasa cemburu. Rindu itu muncul.  Rindu itu muncul karena saya memiliki rasa ingin. Muncul karena tidak ada interaksi.  Rindu ini muncul karena merasa adanya keinginan dan harapan.

Cemburu dan rindu ini. hanya rasa yang biasa. Keduanya muncul. Merasa kurang dan ingin menjadi lebih. Semoga kedua ini semakin membuat diri malu. Membuat semakin memperbaiki diri. Berusaha memantaskan diri, agar adanya perubahan yaitu dari se sosok yang kurang menjadi se sosok yang lebih.


Ya Allah, cemburu dan rindu ini karenaMu, sesungguhnya Engkau Maha Pembolak Balik hati manusia dan hanya kepada Engkau lah aku berserah diri :’)

Jumat, 12 April 2013

al ummu



Proses pendidikan merupakan proses yang digunakan manusia untuk memperoleh pengetahuan. Pengetahuan salah satunya digunakan oleh manusia untuk mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Namun, dewasa kini banyak pemikiran yang menitikberatkan peran pendidikan dipegang oleh sekolah. Adanya kesalahpahaman paradigma, bahwa pendidikan hanya didapat di sekolah. Sekolah merupakan tempat yang bertanggung jawab atas proses seorang anak dalam menerima pendidikan. Sekolah terkadang dianggap merupakan satu satunya tempat yang membuat anak mampu memahami dirinya dan beradaptasi dengan lingkungan. Padahal, sekolah hanyalah salah satu cara saja agar seorang anak mendapatkan pendidikan. Isu pendidikan tidak bisa dilokalisasi hanya disekolah saja. Mendidik seorang anak harus berdasarkan nilai konstruksi lingkungan, hal tersebut menunjukan bukan hanya sekolahlah yang menjadi pusat pendidikan.

            Banyak yang melupakan justru banyak tempat yang merupakan bagian penting dalam proses pendidikan seorang anak, tidak hanya sekolah. Sekolah hanyalah pendidikan formal yang bisa ditempuh, masih banyak pendidikan informal dan non formal lainnya. Selain sekolah, keluarga dan lingkungan masyarakat merupakan seorang anak dalam membentuk karakternya dan menemukan tentang realitas dirinya sendiri. Dan banyak yang melupakan bahwa keluarga lah yang merupakan tempat pertama dalam pembentukan karakter seorang anak. Dalam keluarga pada umumnya orangtua merupakan pemegang utama keputusan yang menyangkut pembentukan seorang anak. Akan tetapi akhir-akhir ini seolah-olah orangtua menyerahkan pendidikan anaknya menjadi tanggung jawab sekolah dan melupakan bahwa justru merekalah yang memiliki peranan penting dalam mengenalkan realitas pada anaknya.

            Mengutip dari tuliasan aries munandar mengenai peran seorang ibu dalam isu pendidikan karakter yang akhir-akhir ini menjadi topik yang sering dibicarakan dikalangan para pendidik “Pembinaan karakter anak bangsa memang dapat melalui penataan sistem pendidikan nasional yang oleh pemerintah dititik beratkan pada lembaga persekolahan. Padahal disadari bahwa proses pendidikan di Indonesia dalam arti luas tidak semata-mata berlangsung di sekolah tetapi juga dapat berlangsung pada ruang gerak sektor atau institusi keagamaan, kemasyarakatan (seperti melalui media massa / internet / teknologi informasi dan kepramukaan) serta institusi keluarga. Bahkan sebenarnya keberadaan anak bangsa (pelajar) di institusi pendidikan formal (sekolah) hanya beberapa jam saja selebihnya mereka berada di luar sekolah. Oleh karena itu perhatian pemerintah terhadap ketiga institusi selain sekolah penting untuk ditingkatkan. Salah satu institusi yang sangat signifikan dalam pembentukan karakter anak bangsa adalah keluarga. Dalam keluarga pengoptimalan peran ibu adalah hal yang pertama dan utama untuk diperhatikan secara sungguh-sungguh bagi peningkatan kualitas anak” (http://www.uinmalang.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=2772:hari-ibu-dan-pendidikan-karakter-serta-keluarga-sakinah).

Dalam keluarga peran seorang ibu memiliki peran yang penting, walaupun sebenarnya peran seorang ayahpun tidak kalah penting dalam pembentukan karakter dan pengenalan realitas bagi seorang anak. Dan karakter merupakan hal yang penting bagi seorang anak dalam beradaptasi dengan lingkungannya. Peran seorang ibu dianggap penting karena ibu orang yang paling dekat dengan anaknya. Ibu merupakan orang yang melahirkan anaknya. Dan pada umumnya ibu merupakan orang yang paling mengerti terhadap sifat dan karakter seorang anak karena ibulah yang mengawal seorang anak dalam mengalami perkembangan. Mengutip sebuah pepatah “behind a great man, there must be a great woman”, pepatah ini menunjukan bahwa peran seorang ibu penting dalam proses pembentukan seorang anak.

Akan tetapi, seiring perkembangannya zaman peranan wanita sebagai seorang ibu mengalami degradasi. Era globalisasi, kini telah menjadi kenyataan dalam kehidupan kita. Globalisasi, diartikan sebagai proses masuknya “sesuatu” menuju lingkup dunia (KBBI, 1995;320). Demikian kuatnya arus globalisasi sehingga perubahan serta pergeseran nilai-nilai dalam kehidupan tak terelakkan. Wanita-wanita yang dahulu sekedar “kanca wingking” sekarang telah bangkit. Tidak sia-sialah perjuangan R.A. Kartini, Ibu Dewi Sartika, dan Ibu-ibu lain yang menginginkan kesetaraan gender antara pria dan wanita. Semakin maraknya isu mengenai emansipasi wanita, membuat para wanita lebih banyak memilih dan berambisi dalam berkarir. Berkarir diluar keluarga membuat para ibu terkadang lupa terhadap proses tumbuh dan berkembangnya anak. Sehingga membuat mereka menyerahkan pendidikan anaknya dengan sekolah ataupun pendidikan informal lainnya. Hal inilah yang memunculkan adanya peralihan paradigma yang menitik beratkan lokalisasi pendidikan adalah domain lembaga pendidikan. Banyak orangtua yang lupa terhadap perannya sebagai pendidik yang paling penting bagi anaknya. Hal ini menyebabkan adanya pergeseran nilai, kini pendidikan banyak berorientasi pada nilai akademik, bukan pada nilai secara tata dan norma yang seharusnya diajarkan orangtua dalam keluarga. Padahal, peranan seorang ibu sebagai orangtua sangatlah penting. Harus adanya keseimbangan yang terjalin dalam melaksanakan peranan sebagai seorang ibu. Pengajaran nilai tata dan norma kepada anak sangatlah penting, karena dengan nilai tata dan norma seorang anak akan mampu beradaptasi dengan lingkungannya yang telah terkonstruksi oleh tatanan adat istiadat dan norma yang ada. Ketika pendidikan hanyalah domain lembaga pendidikan, hal tersebut menjadi hal yang cukup serius bagi pertumbuhan seorang anak dalam menemukan realitasnya sendiri. Karena pendidikan yang dikelola oleh lembaga pendidikan kini dilihat belum mampu membebaskan anak dalam memahami realitasnya. Menurut freire, sistem pendidikan yang pernah ada dan mapan selama ini dapat diandaikan sebagai sebuah bank (banking concept of education) dimana pelajar diberi ilmu pengetahuan agar anak dapat mendatangkan hasil dengan lipat ganda, anak adalah obyek investasi dan sumber deposito yang potensial. Anak hanya menerima apa yang disampaikan, anak hanya menjadi objek, hal ini membuat anak terkekang untuk menemui realitasnya sendiri. Karena pendidikan itu dibentuk, bukan diterima. Sehingga, sangat diperlukan peranan orangtua dalam pendidikan anaknya, terutama peranan seorang ibu yang cukup penting.

            Seorang ibu tidak hanya menjadi istri dalam sebuah keluarga yang memiliki tugas mengurus rumah dan lain sebagainya. Ada peranan dan posisi yang lebih penting bagi seorang ibu dalam proses pendidikan seorang anak. Dalam proses pendidikan seorang anak, ibu juga merupakan seorang guru bagi anaknya. Seperti yang telah dibahas sebelumnya,  peran seorang ibu sebagai guru yaitu mengawal anak dalam perkembangannya. Peranan seorang ibu salah satunya dengan fungsi pengawasan terhadap pembentukan anaknya. Kasih sayang dan perhatian dari seorang Ibu juga mempunyai pengaruh yang besar pada kepribadian anak.  Seorang ibu merupakan tempat pertamakali belajar dan tempat yang memperkenalkan anak pada lingkungannya. Dengan memberikan pengawasan, pengawalan, kasih sayang dan perhatian itu seorang ibu dapat mengantarkan anak pada karakternya.

            Pada hakikatnya, seorang anak itu akan lebih gampang meniru sesuatu yang mereka lihat. Hal-hal tersebut justru yang menjadi salah satu bagian proses pembentukan karakter seorang anak. Disinilah peranan seorang ibu disini sangat dibutuhkan, karena seorang ibu harus menjadi teladan bagi anaknya. Sesuai local value yang masyarakat Indonesia miliki, yaitu patrap triloka yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara. Salah satu patrap triloka yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara yaitu Ing ngarso sung tolodo yang artinya di depan memberikan teladan. Seorang ibu adalah orang pertama yang dilihat dan menjadi contoh yang ditiru oleh anaknya. Karakter seorang ibu tidak bisa dipungkiri selalu saja diturunkan kepada anaknya. Karena seorang anak meniru apa yang dia lihat. Maka dari itu, seorang ibu haruslah memberikan teladan yang baik bagi anaknya. Ketika seorang ibu memberikan teladan yang baik bagi anaknya, kemungkinan terbesar anaknya akan tumbuh dengan memiliki karakter yang mampu mendorong anak tersebut memahami realitasnya.

Sebagai seorang guru untuk anaknya, sebagai seorang pendidik, terkadang seorang ibu juga rentan dari banking system. Dimana seorang ibu memberikan aturan-aturan yang harus dituruti oleh anaknya. Ibu mengatur dan anak yang diatur. Ibu memilki pilihan dan anaknya menuruti pilihan tersebut. Ibu memberikan dan anak yang menerima. Banking system ini membuat anak tidak berada kesadarannya sendiri. Seorang ibu seharusnya memiliki peran sebagai pendidik bukan pengajar yang mengajarkan anak nilai tata dan norma saja. Pendidikan dan pengajaran berbeda. Dengan memberikan pengajaran, seorang ibu hanya akan membuat anaknya menghafal dan meniru apa yang diajarkan oleh ibunya. Akan tetapi, dengan menjadi seorang pendidik seorang ibu akan melakukan penanaman nilai pada anaknya yang membuat anak berfikir kritis dan menemukan nilai yang sebenarnya dari setiap hal yang didapatkan oleh anak. Selanjutnya, anak akan memahami tentang nilai tersebut dan menerapkan atau merefleksikan nilai tersebut pada realitasnya. Disinilah adanya pendidikan karakter dalam peran seorang ibu dalam mengawal pendidikan anaknya.

Menurut paulo freire,  proses pendidikan merupakan proses pembebasan bagi seorang manusia untuk mentukan realitasnya. Karena dialog merupakan metode yang tepat untuk mendapatkan pengetahuan, maka subjek harus memakai pendekatan ilmiah dalam berdialektika dengan dunia sehingga dapat menjelaskan realitas secara benar (politik pendidikan, paulo freire : 105). Maka dari itu, perlunya hubungan yang dialektis antara seorang ibu dengan anaknya. Hubungan dialektis ini berupa komunikasi antara keduanya agar anak tidak terkekang dalam memahami realitasnya. Dengan dialog atau komunikasi anatara orangtua dan anak akan lebih mudah membentuk karakter anak dalam memahami realitasnya, karena adanya proses saling memahami. Komunikasi ini sangat penting karena dengan komunikasi ini membuat orangtua memahami anak dan anak dapat memahami orangtuanya. Dengan komunikasi ini pula, seorang ibu tidak hanya mengajarkan kepada anaknya mana yang disebut dengan aturan yang menunjukan kebenaran dan keburukan. Akan tetapi dengan komunikasi antara ibu dan anak inilah yang membuat anak memahami mengapa aturan dibentuk dan apa yang sebenarnya arti dari kebenaran dan keburukan.

            Pentingnya peranan seorang ibu dalam pendidikan anak. Diperlukan seorang ibu yang cerdas dalam membentuk karakter anaknya. Pepatah “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” menjadi cerminan yang harus direfleksi pada proses pendidikan. Selain komunikasi antara ibu dan anak, perlu adanya desain yang dibentuk oleh seorang ibu yang menjadi pendidik bagi anaknya. Desain inilah yang akan mengantarkan anak pada passionnya dan membentuk anak pada karakter yang dapat memahami realitasnya. Dengan membuat desain, ibu akan mengarahkan anak agar menemukan secara langsung dari realitasnya. Ketika anak menemukan secara langsung realitasnya maka ia akan lebih mudah memberikan feedback terhadap apa yang ia pahami. Peranan seorang ibu yang dianggap lebih dekat dengan anak juga menjadi posisi yang strategis yang membuat anak akan lebih mudah merasa nyaman dalam pembentukan karakternya.

            Sekali lagi, peranan seorang ibu tidaklah mudah, seorang ibu memiliki posisi yang cukup penting dalam proses pendidikan seorang anak. Peranan seorang ibu sebagai pendidik harus mampu mengantarkan anaknya menjangkau knowledge, skill, dan psikologis (attitude). Tiga aspek inilah yang harus dicapai dalam pendidikan. Knowlegde sebagai alat agar anak mampu memahami realitas. Skill merupakan tindakan anak untuk menemukan realitas. Dan psikologis (attitude) merupakan karakter yang membuat anak mampu beradaptasi dengan realitasnya.
              Dalam Islam, posisi wanitu begitu dijaga. karena wanita merupakan calon ibu yang menjadi tonggak pendidikan bagi anaknya. wanita harus cantik dengan ilmu \(^_^)/ banyak tuntunan-tuntunan fiqih wanita dalam realitasnya dapat melindungi wanita. wanita yang menjadi seorang ibu tentulah harus cerdas dalam mendidik anaknya, dan cerdasnya tersebut ya karena ilmu :D
          Peranan penting seorang ibu ini juga telah di ungkapkan dalam surat Taha ayat 38 "(yaitu) Kami mengilhamkan ibumu sesuatu yang diilhamkan". selain itu dalam islam posisi seorang ibu sangat dimuliakan, yok cek Al-Qur'an surat Al-Isra ayat 24 : Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya denganpenuh kasih sayang dan ucapkanlah, "Wahai Tuhanku! sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil".
             Sebelum paulo freire muncul dengan pemikiran politik pendidikannya, Al-Qur'an sudah menjelaskan terlebih dahulu tentang pendidikan kepada anak dan membebaskan anak menemukan realitasnya sendiri. mari kita buka Al-Qur'an surat Al-Ankabut ayat 8 :" Dan Kami wajibkan kepada manusia agar (berbuat) kebaikan kepada kedua orangtuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau patuhi keduanya. Hanya kepada-Ku tempat kembali, dan akan Aku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan."
             Subhannallah yah, sesuatu banget peranan seorang ibu itu. Soooooooooo, cintailah ibu mu karena beliaulah yang memiliki peranan penting dalam pembentukan karaktermu sekarang. Love you mamaaaaah :D
              Dan jangan lupa, mari memantaskan diri untuk menjadi ibu yang baik dan benar dalam pembentukan karakter anak #ups :3

Minggu, 07 April 2013

Untuk yang kelima kalinya



Kecelakaan dalam mengendarai motor sebenarnya bukan hal yang asing lagi bagi saya. Terhitung sejak pertamakali bisa mengendarai motor sampai dengan sekarang sudah 5 kali saya merasakan yang namanya jatuh dari motor. Kecelakaan pertama saat saya masih kelas 2 SMP saat mau berangkat ke kolam renang, jatuh begitu saja, dan teman saya menjadi korbannya. Kecelakaan kedua saat saya mau ujian sekolah saat kelas 3 SMP, saat SMP memang berangkat sekolah saya selalu diantar, posisinya sedang dibonceng oleh sodara, dibelokan ke sekolah motor ditabrak, motor jatuh ke sebelah kanan, dan saya jatuh dengan posisi kepala kebentur aspal, inilah kecelakaan yang membuat orangtua saya kaget dan membawa saya ke rumah sakit. Kecelakaan ketiga terjadi pas berangkat sekolah saat kelas 3 SMA, kecelakaan ini terjadi seminggu setelah motor saya dipake kecelakaan oleh teman saya, dan saya tidak bilang ke orangtua saya kalo yang kecelakaan adalah teman saya, jadi saat kecelakaan yang ketiga ini orangtua saya benar benar tidak habis fikir dan benar benar khawatir, lagi lagi saya dibawa ke rumah sakit, karena posisinya saya nabrak motor orang dan lagi lagi kepala saya membentur jalanan, padahal saya tidak apa apa, hanya shock. Kecelakaan yang keempat saat awal semester 3 kemarin, saya membonceng siska, lalu menabrak trotar dan itu menyebabkan motor saya yang namanya “si mecil” ditarik kembali ke tasik sama orangtua saya, lalu dijual.
Yang ke 5..

Setelah beberapa bulan kepergian mecil, dan setelah menjadi anak baik yang membujuk merayu orangtuanya, akhirnya saya diberikan “si bude”. Kecelakaan yang kelima ini terjadi kemarin saat LK 2 anak-anak 2012, posisi saya dibonceng susi, hari itu hari minggu, saat anak-anak outbond. Niat saya dan susi pada awalnya mengantar si albus yang ga tau jalan ke pos 2 sekalian mengecek kondisi pos-pos yang akan kami tempati. setelah mengantar si albus dan melihat kondisi pos-pos cukup aman, kami berniat kembali ke rumah umi nisa. Kejadian itu terjadi beberapa menit setelah dapet sms dari hanna yang isinya minta maaf dan bilang “gak pake jatuh yaa”. Hahaha. Pas. Setelah itu ada ibu ibu yang kerja bakti dan menyapa kami (keramahan orang di pedesaan ^^). Kami berhenti  sebentar untuk membalas dan melanjutkan kembali perjalanan. Hanya beberapa meter dari ibu ibu motor oleng, jalanan licin, dan susi membanting motor ke sebelah kanan (karena sebelah kiri turunan bebatuan yang kebawahnya sawah). Saya terjatuh ke belakang, kepala saya membentur jalan. Katanya saya tidak sadarkan diri, saat saya terbangun sudah dikrumunin ibu-ibu (lebih tepatnya mbah-mbah). Dibawa ke mobil, dan diperiksa di suatu balai pengobatan. Hidung saya disumpel sama alat oksigen, sumpah itu ga enak banget. Alhamdulillah tidak menimbulkan reaksi apa-apa. Dikasih obat. Dan istirahat dirumah umi nisa sampai LK 2 selesai. Karena saya masih merasa pusing, kepala berat dan lemes orang orang begitu khawatir terhadap kondisi saya, padahal ga kenapa-kenapa ko (serius gueee). Entah mengapa khawatir mereka melebay (keindahan ukhuwah^^). Sampai di jogja saya langsung dibawa ke IGD RSUP Dr. Sardjito. Kata dokter : cedera kepala ringan, struktur tulang masih bagus ko, insyaAllah tidak ada gejala-gejala yang menunjukkan kondisi yang parah, kalo masih merasa pusing dan berat dalam waktu yang cukup lama itu wajar karena efek terbentur yang keras, hanya perlu diistirahatkan dan dikasih bed rest 2 hari (Alhamdulillah yah). Terimakasih buat Mba Ci, Susi, Kabir, Faay, Afdhal, mas Adam, Rikho, Wisnu yang udah nganter ke rumah sakit, padahal aku tau kalian cape pake banget setelah LK 2 :’)

Akibat jatuh..

Entah kenapa semakin lama saya jauh dari orangtua malah membuat saya semakin menjadi anak yang manja dan membuat orangtua saya semakin memanjakan saya. Setelah periksa di IGD saya langsung menelpon orangtua saya, ga ada maksud membuat mereka khawatir, saya menelpon hanya untuk memberitahukan kondisi motor (maklum, mamah saya sangat telaten menjaga barang). Saya fikir mereka akan memaklumi karena sudah terbiasa mendengar saya jatuh dari motor -_-

Tapi tidak bagi orangtua saya. Mamah, bapa, dan aniq benar benar khawatir. Mereka sampai merasakan tidak enak makan dan tidak enak tidur. Mereka langsung memutuskan untuk berangkat ke jogja. dari tasik berangkat malam dan nyampe jogja dini hari. Berhubung bapa saya ga bisa bawa kendaraan bermotor, jadi om (dalam bahasa sunda : emang) saya ikut buat bawa mobil. Dan berhubung kondisi ibu saya gampang sekali ngdrop kalo kecapean, jadi tante (dalam bahasa sunda : bibi) saya ikut, beserta sepupu saya yang paling kecil. Om saya ga tau jalan ke kontrakan, bapa saya lupa jalan ke kontrakan (karena ke jogja sebelumnya juga jalannya nyasar sampe kusumanegara), susi kakinya ga bisa bawa motor, dan itu masih dini hari jadi ga mungkin minta tolong mba Ci, akhirnya saya meminta tolong orang lain untuk jemput. Terimakasih buat kabir, faay dan afdhal yang rela bangun dini hari dan hampir nyasar ke wates (lagi, keindahan ukhuwah^^)

Ya Allah, mereka benar benar khawatir. Setelah membuka pintu, mamah orang yang ada di paling depan. Saya cium tangannya, dan beliau langsung memeluk saya. Ah, mau nangisnya pake banget. Dulu, saya dan mamah tidak seperti itu. Mereka datang langsung mengecek kondisi saya, mengelus-ngelus kepala saya. Tapi bukan emak emak kalo ga komentar ini itu, nasihat yang cukup panjang. Dan saya begitu ikhlas menerima nasihat itu.

Berhubung itu hari kedua saya istirahat, kondisi kepusingan saya sudah cukup membaik. Hari itu saya jalan jalan bersama keluarga di jogja untuk yang pertamakalinya. Kita jalan-jalan ke kraton, alun-alun, dan bukan emak emak kalo engga ke pasar beringharjo.




 Engga kerasa waktu udah sore Jalan-jalan selesai. Pusing banget nget. Kepala kleyengan. Dan orangtua saya memutuskan pulang malam itu juga. Tambah pusing. Setelah maghrib orangtua saya benar benar pulang. Mengantar keberangkatan orangtua di depan rumah. Itu bikin pengen brebes mili. Mobil masih kosong. Pengeeeen banget ikut pulang. Tapi tugas kuliah banyak yang menunggu. Menyedihkan. Mamah memeluk dan mencium bilang supaya saya bersabar dan cepet sembuh. Bapa memeluk dan bilang supaya saya bisa kuat dan harus belajar sabar dijogja.
Seriusan ! saya sayang mamah, bapa, aniq semua karena Allah \^_^/

Aaah, mereka begitu menyayangi saya. Benar-benar menyayangi. Padahal kehidupan saya dijogja tak seberat kehidupan mereka yang harus bekerja keras ditasik demi kehidupan saya dijogja, tapi mereka tetap menguatkan saya. Ya Allah, terimakasih atas kasih sayang-Mu dengan menurunkan sepasang suami istri yang begitu mencintai anaknya itu.

Aaah, kedatangan mereka justru membuat saya rindu. Dan akan selalu rindu.

Rindu suasana rumah
dan rindu pada udara pagi dari balkon rumah :’)