Selasa, 16 April 2013
Jumat, 12 April 2013
al ummu
Proses
pendidikan merupakan proses yang digunakan manusia untuk memperoleh
pengetahuan. Pengetahuan salah satunya digunakan oleh manusia untuk mampu
beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Namun, dewasa kini banyak pemikiran
yang menitikberatkan peran pendidikan dipegang oleh sekolah. Adanya
kesalahpahaman paradigma, bahwa pendidikan hanya didapat di sekolah. Sekolah
merupakan tempat yang bertanggung jawab atas proses seorang anak dalam menerima
pendidikan. Sekolah terkadang dianggap merupakan satu satunya tempat yang
membuat anak mampu memahami dirinya dan beradaptasi dengan lingkungan. Padahal,
sekolah hanyalah salah satu cara saja agar seorang anak mendapatkan pendidikan.
Isu pendidikan tidak bisa dilokalisasi hanya disekolah saja. Mendidik seorang
anak harus berdasarkan nilai konstruksi lingkungan, hal tersebut menunjukan
bukan hanya sekolahlah yang menjadi pusat pendidikan.
Banyak yang melupakan justru banyak
tempat yang merupakan bagian penting dalam proses pendidikan seorang anak,
tidak hanya sekolah. Sekolah hanyalah pendidikan formal yang bisa ditempuh,
masih banyak pendidikan informal dan non formal lainnya. Selain sekolah,
keluarga dan lingkungan masyarakat merupakan seorang anak dalam membentuk
karakternya dan menemukan tentang realitas dirinya sendiri. Dan banyak yang
melupakan bahwa keluarga lah yang merupakan tempat pertama dalam pembentukan
karakter seorang anak. Dalam keluarga pada umumnya orangtua merupakan pemegang
utama keputusan yang menyangkut pembentukan seorang anak. Akan tetapi akhir-akhir
ini seolah-olah orangtua menyerahkan pendidikan anaknya menjadi tanggung jawab
sekolah dan melupakan bahwa justru merekalah yang memiliki peranan penting
dalam mengenalkan realitas pada anaknya.
Mengutip
dari tuliasan aries munandar mengenai peran seorang ibu dalam isu pendidikan
karakter yang akhir-akhir ini menjadi topik yang sering dibicarakan dikalangan
para pendidik “Pembinaan karakter anak bangsa memang dapat melalui penataan
sistem pendidikan nasional yang oleh pemerintah dititik beratkan pada lembaga
persekolahan. Padahal disadari bahwa proses pendidikan di Indonesia dalam arti
luas tidak semata-mata berlangsung di sekolah tetapi juga dapat berlangsung
pada ruang gerak sektor atau institusi keagamaan, kemasyarakatan (seperti
melalui media massa / internet / teknologi informasi dan kepramukaan) serta
institusi keluarga. Bahkan sebenarnya keberadaan anak bangsa (pelajar) di
institusi pendidikan formal (sekolah) hanya beberapa jam saja selebihnya mereka
berada di luar sekolah. Oleh karena itu perhatian pemerintah terhadap ketiga
institusi selain sekolah penting untuk ditingkatkan. Salah satu institusi yang
sangat signifikan dalam pembentukan karakter anak bangsa adalah keluarga. Dalam
keluarga pengoptimalan peran ibu adalah hal yang pertama dan utama untuk
diperhatikan secara sungguh-sungguh bagi peningkatan kualitas anak” (http://www.uinmalang.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=2772:hari-ibu-dan-pendidikan-karakter-serta-keluarga-sakinah).
Dalam
keluarga peran seorang ibu memiliki peran yang penting, walaupun sebenarnya
peran seorang ayahpun tidak kalah penting dalam pembentukan karakter dan
pengenalan realitas bagi seorang anak. Dan karakter merupakan hal yang penting
bagi seorang anak dalam beradaptasi dengan lingkungannya. Peran seorang ibu
dianggap penting karena ibu orang yang paling dekat dengan anaknya. Ibu
merupakan orang yang melahirkan anaknya. Dan pada umumnya ibu merupakan orang
yang paling mengerti terhadap sifat dan karakter seorang anak karena ibulah
yang mengawal seorang anak dalam mengalami perkembangan. Mengutip sebuah
pepatah “behind a great man, there must
be a great woman”, pepatah ini menunjukan bahwa peran seorang ibu penting
dalam proses pembentukan seorang anak.
Akan tetapi, seiring perkembangannya zaman peranan
wanita sebagai seorang ibu mengalami degradasi. Era globalisasi, kini telah menjadi
kenyataan dalam kehidupan kita. Globalisasi, diartikan sebagai proses masuknya
“sesuatu” menuju lingkup dunia (KBBI, 1995;320). Demikian kuatnya arus
globalisasi sehingga perubahan serta pergeseran nilai-nilai dalam kehidupan tak
terelakkan. Wanita-wanita yang dahulu sekedar “kanca wingking” sekarang telah
bangkit. Tidak sia-sialah perjuangan R.A. Kartini, Ibu Dewi Sartika, dan
Ibu-ibu lain yang menginginkan kesetaraan gender antara pria dan wanita. Semakin
maraknya isu mengenai emansipasi wanita, membuat para wanita lebih banyak
memilih dan berambisi dalam berkarir. Berkarir diluar keluarga membuat para ibu
terkadang lupa terhadap proses tumbuh dan berkembangnya anak. Sehingga membuat
mereka menyerahkan pendidikan anaknya dengan sekolah ataupun pendidikan
informal lainnya. Hal inilah yang memunculkan adanya peralihan paradigma yang
menitik beratkan lokalisasi pendidikan adalah domain lembaga pendidikan. Banyak
orangtua yang lupa terhadap perannya sebagai pendidik yang paling penting bagi
anaknya. Hal ini menyebabkan adanya pergeseran nilai, kini pendidikan banyak
berorientasi pada nilai akademik, bukan pada nilai secara tata dan norma yang
seharusnya diajarkan orangtua dalam keluarga. Padahal, peranan seorang ibu sebagai
orangtua sangatlah penting. Harus adanya keseimbangan yang terjalin dalam
melaksanakan peranan sebagai seorang ibu. Pengajaran nilai tata dan norma
kepada anak sangatlah penting, karena dengan nilai tata dan norma seorang anak
akan mampu beradaptasi dengan lingkungannya yang telah terkonstruksi oleh
tatanan adat istiadat dan norma yang ada. Ketika pendidikan hanyalah domain
lembaga pendidikan, hal tersebut menjadi hal yang cukup serius bagi pertumbuhan
seorang anak dalam menemukan realitasnya sendiri. Karena pendidikan yang
dikelola oleh lembaga pendidikan kini dilihat belum mampu membebaskan anak
dalam memahami realitasnya. Menurut freire, sistem pendidikan yang pernah ada
dan mapan selama ini dapat diandaikan sebagai sebuah bank (banking concept of education) dimana pelajar diberi ilmu
pengetahuan agar anak dapat mendatangkan hasil dengan lipat ganda, anak adalah
obyek investasi dan sumber deposito yang potensial. Anak hanya menerima apa
yang disampaikan, anak hanya menjadi objek, hal ini membuat anak terkekang
untuk menemui realitasnya sendiri. Karena pendidikan itu dibentuk, bukan
diterima. Sehingga, sangat diperlukan peranan orangtua dalam pendidikan
anaknya, terutama peranan seorang ibu yang cukup penting.
Seorang ibu tidak hanya menjadi
istri dalam sebuah keluarga yang memiliki tugas mengurus rumah dan lain
sebagainya. Ada peranan dan posisi yang lebih penting bagi seorang ibu dalam
proses pendidikan seorang anak. Dalam proses pendidikan seorang anak, ibu juga
merupakan seorang guru bagi anaknya. Seperti yang telah dibahas
sebelumnya, peran seorang ibu sebagai
guru yaitu mengawal anak dalam perkembangannya. Peranan seorang ibu salah
satunya dengan fungsi pengawasan terhadap pembentukan anaknya. Kasih sayang dan
perhatian dari seorang Ibu juga mempunyai pengaruh yang besar pada kepribadian
anak. Seorang ibu merupakan tempat
pertamakali belajar dan tempat yang memperkenalkan anak pada lingkungannya.
Dengan memberikan pengawasan, pengawalan, kasih sayang dan perhatian itu
seorang ibu dapat mengantarkan anak pada karakternya.
Pada hakikatnya, seorang anak itu
akan lebih gampang meniru sesuatu yang mereka lihat. Hal-hal tersebut justru
yang menjadi salah satu bagian proses pembentukan karakter seorang anak.
Disinilah peranan seorang ibu disini sangat dibutuhkan, karena seorang ibu harus
menjadi teladan bagi anaknya. Sesuai local
value yang masyarakat Indonesia miliki, yaitu patrap triloka yang diajarkan
oleh Ki Hajar Dewantara. Salah satu patrap triloka yang diajarkan oleh Ki Hajar
Dewantara yaitu Ing ngarso sung tolodo
yang artinya di depan memberikan teladan. Seorang ibu adalah orang pertama yang
dilihat dan menjadi contoh yang ditiru oleh anaknya. Karakter seorang ibu tidak
bisa dipungkiri selalu saja diturunkan kepada anaknya. Karena seorang anak
meniru apa yang dia lihat. Maka dari itu, seorang ibu haruslah memberikan
teladan yang baik bagi anaknya. Ketika seorang ibu memberikan teladan yang baik
bagi anaknya, kemungkinan terbesar anaknya akan tumbuh dengan memiliki karakter
yang mampu mendorong anak tersebut memahami realitasnya.
Sebagai
seorang guru untuk anaknya, sebagai seorang pendidik, terkadang seorang ibu
juga rentan dari banking system.
Dimana seorang ibu memberikan aturan-aturan yang harus dituruti oleh anaknya.
Ibu mengatur dan anak yang diatur. Ibu memilki pilihan dan anaknya menuruti
pilihan tersebut. Ibu memberikan dan anak yang menerima. Banking system ini membuat anak tidak berada kesadarannya sendiri.
Seorang ibu seharusnya memiliki peran sebagai pendidik bukan pengajar yang
mengajarkan anak nilai tata dan norma saja. Pendidikan dan pengajaran berbeda. Dengan
memberikan pengajaran, seorang ibu hanya akan membuat anaknya menghafal dan
meniru apa yang diajarkan oleh ibunya. Akan tetapi, dengan menjadi seorang
pendidik seorang ibu akan melakukan penanaman nilai pada anaknya yang membuat
anak berfikir kritis dan menemukan nilai yang sebenarnya dari setiap hal yang
didapatkan oleh anak. Selanjutnya, anak akan memahami tentang nilai tersebut
dan menerapkan atau merefleksikan nilai tersebut pada realitasnya. Disinilah
adanya pendidikan karakter dalam peran seorang ibu dalam mengawal pendidikan
anaknya.
Menurut
paulo freire, proses pendidikan
merupakan proses pembebasan bagi seorang manusia untuk mentukan realitasnya.
Karena dialog merupakan metode yang tepat untuk mendapatkan pengetahuan, maka
subjek harus memakai pendekatan ilmiah dalam berdialektika dengan dunia
sehingga dapat menjelaskan realitas secara benar (politik pendidikan, paulo
freire : 105). Maka dari itu, perlunya hubungan yang dialektis antara seorang
ibu dengan anaknya. Hubungan dialektis ini berupa komunikasi antara keduanya
agar anak tidak terkekang dalam memahami realitasnya. Dengan dialog atau
komunikasi anatara orangtua dan anak akan lebih mudah membentuk karakter anak
dalam memahami realitasnya, karena adanya proses saling memahami. Komunikasi
ini sangat penting karena dengan komunikasi ini membuat orangtua memahami anak
dan anak dapat memahami orangtuanya. Dengan komunikasi ini pula, seorang ibu
tidak hanya mengajarkan kepada anaknya mana yang disebut dengan aturan yang
menunjukan kebenaran dan keburukan. Akan tetapi dengan komunikasi antara ibu
dan anak inilah yang membuat anak memahami mengapa aturan dibentuk dan apa yang
sebenarnya arti dari kebenaran dan keburukan.
Pentingnya peranan seorang ibu dalam
pendidikan anak. Diperlukan seorang ibu yang cerdas dalam membentuk karakter
anaknya. Pepatah “buah jatuh tidak jauh
dari pohonnya” menjadi cerminan yang harus direfleksi pada proses
pendidikan. Selain komunikasi antara ibu dan anak, perlu adanya desain yang dibentuk oleh seorang ibu
yang menjadi pendidik bagi anaknya. Desain
inilah yang akan mengantarkan anak pada passionnya
dan membentuk anak pada karakter yang dapat memahami realitasnya. Dengan
membuat desain, ibu akan mengarahkan
anak agar menemukan secara langsung dari realitasnya. Ketika anak menemukan
secara langsung realitasnya maka ia akan lebih mudah memberikan feedback terhadap apa yang ia pahami.
Peranan seorang ibu yang dianggap lebih dekat dengan anak juga menjadi posisi
yang strategis yang membuat anak akan lebih mudah merasa nyaman dalam
pembentukan karakternya.
Sekali lagi, peranan seorang ibu
tidaklah mudah, seorang ibu memiliki posisi yang cukup penting dalam proses
pendidikan seorang anak. Peranan seorang ibu sebagai pendidik harus mampu
mengantarkan anaknya menjangkau knowledge,
skill, dan psikologis (attitude). Tiga aspek inilah yang harus dicapai
dalam pendidikan. Knowlegde sebagai
alat agar anak mampu memahami realitas. Skill
merupakan tindakan anak untuk menemukan realitas. Dan psikologis (attitude) merupakan karakter yang membuat anak mampu
beradaptasi dengan realitasnya.
Dalam Islam, posisi wanitu begitu dijaga. karena wanita merupakan calon ibu yang menjadi tonggak pendidikan bagi anaknya. wanita harus cantik dengan ilmu \(^_^)/ banyak tuntunan-tuntunan fiqih wanita dalam realitasnya dapat melindungi wanita. wanita yang menjadi seorang ibu tentulah harus cerdas dalam mendidik anaknya, dan cerdasnya tersebut ya karena ilmu :D
Peranan penting seorang ibu ini juga telah di ungkapkan dalam surat Taha ayat 38 "(yaitu) Kami mengilhamkan ibumu sesuatu yang diilhamkan". selain itu dalam islam posisi seorang ibu sangat dimuliakan, yok cek Al-Qur'an surat Al-Isra ayat 24 : Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya denganpenuh kasih sayang dan ucapkanlah, "Wahai Tuhanku! sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil".
Sebelum paulo freire muncul dengan pemikiran politik pendidikannya, Al-Qur'an sudah menjelaskan terlebih dahulu tentang pendidikan kepada anak dan membebaskan anak menemukan realitasnya sendiri. mari kita buka Al-Qur'an surat Al-Ankabut ayat 8 :" Dan Kami wajibkan kepada manusia agar (berbuat) kebaikan kepada kedua orangtuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau patuhi keduanya. Hanya kepada-Ku tempat kembali, dan akan Aku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan."
Subhannallah yah, sesuatu banget peranan seorang ibu itu. Soooooooooo, cintailah ibu mu karena beliaulah yang memiliki peranan penting dalam pembentukan karaktermu sekarang. Love you mamaaaaah :D
Dan jangan lupa, mari memantaskan diri untuk menjadi ibu yang baik dan benar dalam pembentukan karakter anak #ups :3
Minggu, 07 April 2013
Untuk yang kelima kalinya
Kecelakaan dalam mengendarai motor sebenarnya bukan hal yang
asing lagi bagi saya. Terhitung sejak pertamakali bisa mengendarai motor sampai
dengan sekarang sudah 5 kali saya merasakan yang namanya jatuh dari motor. Kecelakaan
pertama saat saya masih kelas 2 SMP saat mau berangkat ke kolam renang, jatuh
begitu saja, dan teman saya menjadi korbannya. Kecelakaan kedua saat saya mau
ujian sekolah saat kelas 3 SMP, saat SMP memang berangkat sekolah saya selalu
diantar, posisinya sedang dibonceng oleh sodara, dibelokan ke sekolah motor
ditabrak, motor jatuh ke sebelah kanan, dan saya jatuh dengan posisi kepala
kebentur aspal, inilah kecelakaan yang membuat orangtua saya kaget dan membawa
saya ke rumah sakit. Kecelakaan ketiga terjadi pas berangkat sekolah saat kelas
3 SMA, kecelakaan ini terjadi seminggu setelah motor saya dipake kecelakaan
oleh teman saya, dan saya tidak bilang ke orangtua saya kalo yang kecelakaan
adalah teman saya, jadi saat kecelakaan yang ketiga ini orangtua saya benar
benar tidak habis fikir dan benar benar khawatir, lagi lagi saya dibawa ke
rumah sakit, karena posisinya saya nabrak motor orang dan lagi lagi kepala saya
membentur jalanan, padahal saya tidak apa apa, hanya shock. Kecelakaan yang
keempat saat awal semester 3 kemarin, saya membonceng siska, lalu menabrak
trotar dan itu menyebabkan motor saya yang namanya “si mecil” ditarik kembali
ke tasik sama orangtua saya, lalu dijual.
Yang ke 5..
Setelah beberapa bulan kepergian mecil, dan setelah menjadi
anak baik yang membujuk merayu orangtuanya, akhirnya saya diberikan “si bude”. Kecelakaan
yang kelima ini terjadi kemarin saat LK 2 anak-anak 2012, posisi saya dibonceng
susi, hari itu hari minggu, saat anak-anak outbond. Niat saya dan susi pada
awalnya mengantar si albus yang ga tau jalan ke pos 2 sekalian mengecek kondisi
pos-pos yang akan kami tempati. setelah mengantar si albus dan melihat kondisi
pos-pos cukup aman, kami berniat kembali ke rumah umi nisa. Kejadian itu
terjadi beberapa menit setelah dapet sms dari hanna yang isinya minta maaf dan
bilang “gak pake jatuh yaa”. Hahaha. Pas. Setelah itu ada ibu ibu yang kerja
bakti dan menyapa kami (keramahan orang di pedesaan ^^). Kami berhenti sebentar untuk membalas dan melanjutkan
kembali perjalanan. Hanya beberapa meter dari ibu ibu motor oleng, jalanan
licin, dan susi membanting motor ke sebelah kanan (karena sebelah kiri turunan
bebatuan yang kebawahnya sawah). Saya terjatuh ke belakang, kepala saya
membentur jalan. Katanya saya tidak sadarkan diri, saat saya terbangun sudah
dikrumunin ibu-ibu (lebih tepatnya mbah-mbah). Dibawa ke mobil, dan diperiksa
di suatu balai pengobatan. Hidung saya disumpel sama alat oksigen, sumpah itu
ga enak banget. Alhamdulillah tidak menimbulkan reaksi apa-apa. Dikasih obat. Dan
istirahat dirumah umi nisa sampai LK 2 selesai. Karena saya masih merasa
pusing, kepala berat dan lemes orang orang begitu khawatir terhadap kondisi saya,
padahal ga kenapa-kenapa ko (serius gueee). Entah mengapa khawatir mereka
melebay (keindahan ukhuwah^^). Sampai di jogja saya langsung dibawa ke IGD RSUP
Dr. Sardjito. Kata dokter : cedera kepala ringan, struktur tulang masih bagus
ko, insyaAllah tidak ada gejala-gejala yang menunjukkan kondisi yang parah,
kalo masih merasa pusing dan berat dalam waktu yang cukup lama itu wajar karena
efek terbentur yang keras, hanya perlu diistirahatkan dan dikasih bed rest 2
hari (Alhamdulillah yah). Terimakasih buat Mba Ci, Susi, Kabir, Faay, Afdhal,
mas Adam, Rikho, Wisnu yang udah nganter ke rumah sakit, padahal aku tau kalian
cape pake banget setelah LK 2 :’)
Akibat jatuh..
Entah kenapa semakin lama saya jauh dari orangtua malah
membuat saya semakin menjadi anak yang manja dan membuat orangtua saya semakin
memanjakan saya. Setelah periksa di IGD saya langsung menelpon orangtua saya,
ga ada maksud membuat mereka khawatir, saya menelpon hanya untuk memberitahukan
kondisi motor (maklum, mamah saya sangat telaten menjaga barang). Saya fikir
mereka akan memaklumi karena sudah terbiasa mendengar saya jatuh dari motor -_-
Tapi tidak bagi orangtua saya. Mamah, bapa, dan aniq benar
benar khawatir. Mereka sampai merasakan tidak enak makan dan tidak enak tidur. Mereka
langsung memutuskan untuk berangkat ke jogja. dari tasik berangkat malam dan
nyampe jogja dini hari. Berhubung bapa saya ga bisa bawa kendaraan bermotor,
jadi om (dalam bahasa sunda : emang) saya ikut buat bawa mobil. Dan berhubung kondisi ibu saya gampang
sekali ngdrop kalo kecapean, jadi tante (dalam bahasa sunda : bibi) saya ikut, beserta sepupu saya yang
paling kecil. Om saya ga tau jalan ke kontrakan, bapa saya lupa jalan ke
kontrakan (karena ke jogja sebelumnya juga jalannya nyasar sampe kusumanegara),
susi kakinya ga bisa bawa motor, dan itu masih dini hari jadi ga mungkin minta
tolong mba Ci, akhirnya saya meminta tolong orang lain untuk jemput. Terimakasih
buat kabir, faay dan afdhal yang rela bangun dini hari dan hampir nyasar ke
wates (lagi, keindahan ukhuwah^^)
Ya Allah, mereka benar benar khawatir. Setelah membuka
pintu, mamah orang yang ada di paling depan. Saya cium tangannya, dan beliau
langsung memeluk saya. Ah, mau nangisnya pake banget. Dulu, saya dan mamah
tidak seperti itu. Mereka datang langsung mengecek kondisi saya,
mengelus-ngelus kepala saya. Tapi bukan emak emak kalo ga komentar ini itu,
nasihat yang cukup panjang. Dan saya begitu ikhlas menerima nasihat itu.
Berhubung itu hari kedua saya istirahat, kondisi kepusingan
saya sudah cukup membaik. Hari itu saya jalan jalan bersama keluarga di jogja
untuk yang pertamakalinya. Kita jalan-jalan ke kraton, alun-alun, dan bukan
emak emak kalo engga ke pasar beringharjo.
Engga kerasa waktu udah sore Jalan-jalan selesai. Pusing banget
nget. Kepala kleyengan. Dan orangtua saya memutuskan pulang malam itu juga. Tambah
pusing. Setelah maghrib orangtua saya benar benar pulang. Mengantar keberangkatan
orangtua di depan rumah. Itu bikin pengen brebes mili. Mobil masih kosong. Pengeeeen
banget ikut pulang. Tapi tugas kuliah banyak yang menunggu. Menyedihkan. Mamah memeluk
dan mencium bilang supaya saya bersabar dan cepet sembuh. Bapa memeluk dan
bilang supaya saya bisa kuat dan harus belajar sabar dijogja.
Seriusan ! saya sayang mamah, bapa, aniq semua karena Allah
\^_^/
Aaah, mereka begitu menyayangi saya. Benar-benar menyayangi.
Padahal kehidupan saya dijogja tak seberat kehidupan mereka yang harus bekerja
keras ditasik demi kehidupan saya dijogja, tapi mereka tetap menguatkan saya.
Ya Allah, terimakasih atas kasih sayang-Mu dengan menurunkan sepasang suami
istri yang begitu mencintai anaknya itu.
Aaah, kedatangan mereka justru membuat saya rindu. Dan akan
selalu rindu.
Rindu suasana rumah
dan rindu pada udara pagi dari balkon rumah :’)
dan rindu pada udara pagi dari balkon rumah :’)
Langganan:
Postingan (Atom)


