Jumat, 12 April 2013

al ummu



Proses pendidikan merupakan proses yang digunakan manusia untuk memperoleh pengetahuan. Pengetahuan salah satunya digunakan oleh manusia untuk mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya. Namun, dewasa kini banyak pemikiran yang menitikberatkan peran pendidikan dipegang oleh sekolah. Adanya kesalahpahaman paradigma, bahwa pendidikan hanya didapat di sekolah. Sekolah merupakan tempat yang bertanggung jawab atas proses seorang anak dalam menerima pendidikan. Sekolah terkadang dianggap merupakan satu satunya tempat yang membuat anak mampu memahami dirinya dan beradaptasi dengan lingkungan. Padahal, sekolah hanyalah salah satu cara saja agar seorang anak mendapatkan pendidikan. Isu pendidikan tidak bisa dilokalisasi hanya disekolah saja. Mendidik seorang anak harus berdasarkan nilai konstruksi lingkungan, hal tersebut menunjukan bukan hanya sekolahlah yang menjadi pusat pendidikan.

            Banyak yang melupakan justru banyak tempat yang merupakan bagian penting dalam proses pendidikan seorang anak, tidak hanya sekolah. Sekolah hanyalah pendidikan formal yang bisa ditempuh, masih banyak pendidikan informal dan non formal lainnya. Selain sekolah, keluarga dan lingkungan masyarakat merupakan seorang anak dalam membentuk karakternya dan menemukan tentang realitas dirinya sendiri. Dan banyak yang melupakan bahwa keluarga lah yang merupakan tempat pertama dalam pembentukan karakter seorang anak. Dalam keluarga pada umumnya orangtua merupakan pemegang utama keputusan yang menyangkut pembentukan seorang anak. Akan tetapi akhir-akhir ini seolah-olah orangtua menyerahkan pendidikan anaknya menjadi tanggung jawab sekolah dan melupakan bahwa justru merekalah yang memiliki peranan penting dalam mengenalkan realitas pada anaknya.

            Mengutip dari tuliasan aries munandar mengenai peran seorang ibu dalam isu pendidikan karakter yang akhir-akhir ini menjadi topik yang sering dibicarakan dikalangan para pendidik “Pembinaan karakter anak bangsa memang dapat melalui penataan sistem pendidikan nasional yang oleh pemerintah dititik beratkan pada lembaga persekolahan. Padahal disadari bahwa proses pendidikan di Indonesia dalam arti luas tidak semata-mata berlangsung di sekolah tetapi juga dapat berlangsung pada ruang gerak sektor atau institusi keagamaan, kemasyarakatan (seperti melalui media massa / internet / teknologi informasi dan kepramukaan) serta institusi keluarga. Bahkan sebenarnya keberadaan anak bangsa (pelajar) di institusi pendidikan formal (sekolah) hanya beberapa jam saja selebihnya mereka berada di luar sekolah. Oleh karena itu perhatian pemerintah terhadap ketiga institusi selain sekolah penting untuk ditingkatkan. Salah satu institusi yang sangat signifikan dalam pembentukan karakter anak bangsa adalah keluarga. Dalam keluarga pengoptimalan peran ibu adalah hal yang pertama dan utama untuk diperhatikan secara sungguh-sungguh bagi peningkatan kualitas anak” (http://www.uinmalang.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=2772:hari-ibu-dan-pendidikan-karakter-serta-keluarga-sakinah).

Dalam keluarga peran seorang ibu memiliki peran yang penting, walaupun sebenarnya peran seorang ayahpun tidak kalah penting dalam pembentukan karakter dan pengenalan realitas bagi seorang anak. Dan karakter merupakan hal yang penting bagi seorang anak dalam beradaptasi dengan lingkungannya. Peran seorang ibu dianggap penting karena ibu orang yang paling dekat dengan anaknya. Ibu merupakan orang yang melahirkan anaknya. Dan pada umumnya ibu merupakan orang yang paling mengerti terhadap sifat dan karakter seorang anak karena ibulah yang mengawal seorang anak dalam mengalami perkembangan. Mengutip sebuah pepatah “behind a great man, there must be a great woman”, pepatah ini menunjukan bahwa peran seorang ibu penting dalam proses pembentukan seorang anak.

Akan tetapi, seiring perkembangannya zaman peranan wanita sebagai seorang ibu mengalami degradasi. Era globalisasi, kini telah menjadi kenyataan dalam kehidupan kita. Globalisasi, diartikan sebagai proses masuknya “sesuatu” menuju lingkup dunia (KBBI, 1995;320). Demikian kuatnya arus globalisasi sehingga perubahan serta pergeseran nilai-nilai dalam kehidupan tak terelakkan. Wanita-wanita yang dahulu sekedar “kanca wingking” sekarang telah bangkit. Tidak sia-sialah perjuangan R.A. Kartini, Ibu Dewi Sartika, dan Ibu-ibu lain yang menginginkan kesetaraan gender antara pria dan wanita. Semakin maraknya isu mengenai emansipasi wanita, membuat para wanita lebih banyak memilih dan berambisi dalam berkarir. Berkarir diluar keluarga membuat para ibu terkadang lupa terhadap proses tumbuh dan berkembangnya anak. Sehingga membuat mereka menyerahkan pendidikan anaknya dengan sekolah ataupun pendidikan informal lainnya. Hal inilah yang memunculkan adanya peralihan paradigma yang menitik beratkan lokalisasi pendidikan adalah domain lembaga pendidikan. Banyak orangtua yang lupa terhadap perannya sebagai pendidik yang paling penting bagi anaknya. Hal ini menyebabkan adanya pergeseran nilai, kini pendidikan banyak berorientasi pada nilai akademik, bukan pada nilai secara tata dan norma yang seharusnya diajarkan orangtua dalam keluarga. Padahal, peranan seorang ibu sebagai orangtua sangatlah penting. Harus adanya keseimbangan yang terjalin dalam melaksanakan peranan sebagai seorang ibu. Pengajaran nilai tata dan norma kepada anak sangatlah penting, karena dengan nilai tata dan norma seorang anak akan mampu beradaptasi dengan lingkungannya yang telah terkonstruksi oleh tatanan adat istiadat dan norma yang ada. Ketika pendidikan hanyalah domain lembaga pendidikan, hal tersebut menjadi hal yang cukup serius bagi pertumbuhan seorang anak dalam menemukan realitasnya sendiri. Karena pendidikan yang dikelola oleh lembaga pendidikan kini dilihat belum mampu membebaskan anak dalam memahami realitasnya. Menurut freire, sistem pendidikan yang pernah ada dan mapan selama ini dapat diandaikan sebagai sebuah bank (banking concept of education) dimana pelajar diberi ilmu pengetahuan agar anak dapat mendatangkan hasil dengan lipat ganda, anak adalah obyek investasi dan sumber deposito yang potensial. Anak hanya menerima apa yang disampaikan, anak hanya menjadi objek, hal ini membuat anak terkekang untuk menemui realitasnya sendiri. Karena pendidikan itu dibentuk, bukan diterima. Sehingga, sangat diperlukan peranan orangtua dalam pendidikan anaknya, terutama peranan seorang ibu yang cukup penting.

            Seorang ibu tidak hanya menjadi istri dalam sebuah keluarga yang memiliki tugas mengurus rumah dan lain sebagainya. Ada peranan dan posisi yang lebih penting bagi seorang ibu dalam proses pendidikan seorang anak. Dalam proses pendidikan seorang anak, ibu juga merupakan seorang guru bagi anaknya. Seperti yang telah dibahas sebelumnya,  peran seorang ibu sebagai guru yaitu mengawal anak dalam perkembangannya. Peranan seorang ibu salah satunya dengan fungsi pengawasan terhadap pembentukan anaknya. Kasih sayang dan perhatian dari seorang Ibu juga mempunyai pengaruh yang besar pada kepribadian anak.  Seorang ibu merupakan tempat pertamakali belajar dan tempat yang memperkenalkan anak pada lingkungannya. Dengan memberikan pengawasan, pengawalan, kasih sayang dan perhatian itu seorang ibu dapat mengantarkan anak pada karakternya.

            Pada hakikatnya, seorang anak itu akan lebih gampang meniru sesuatu yang mereka lihat. Hal-hal tersebut justru yang menjadi salah satu bagian proses pembentukan karakter seorang anak. Disinilah peranan seorang ibu disini sangat dibutuhkan, karena seorang ibu harus menjadi teladan bagi anaknya. Sesuai local value yang masyarakat Indonesia miliki, yaitu patrap triloka yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara. Salah satu patrap triloka yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara yaitu Ing ngarso sung tolodo yang artinya di depan memberikan teladan. Seorang ibu adalah orang pertama yang dilihat dan menjadi contoh yang ditiru oleh anaknya. Karakter seorang ibu tidak bisa dipungkiri selalu saja diturunkan kepada anaknya. Karena seorang anak meniru apa yang dia lihat. Maka dari itu, seorang ibu haruslah memberikan teladan yang baik bagi anaknya. Ketika seorang ibu memberikan teladan yang baik bagi anaknya, kemungkinan terbesar anaknya akan tumbuh dengan memiliki karakter yang mampu mendorong anak tersebut memahami realitasnya.

Sebagai seorang guru untuk anaknya, sebagai seorang pendidik, terkadang seorang ibu juga rentan dari banking system. Dimana seorang ibu memberikan aturan-aturan yang harus dituruti oleh anaknya. Ibu mengatur dan anak yang diatur. Ibu memilki pilihan dan anaknya menuruti pilihan tersebut. Ibu memberikan dan anak yang menerima. Banking system ini membuat anak tidak berada kesadarannya sendiri. Seorang ibu seharusnya memiliki peran sebagai pendidik bukan pengajar yang mengajarkan anak nilai tata dan norma saja. Pendidikan dan pengajaran berbeda. Dengan memberikan pengajaran, seorang ibu hanya akan membuat anaknya menghafal dan meniru apa yang diajarkan oleh ibunya. Akan tetapi, dengan menjadi seorang pendidik seorang ibu akan melakukan penanaman nilai pada anaknya yang membuat anak berfikir kritis dan menemukan nilai yang sebenarnya dari setiap hal yang didapatkan oleh anak. Selanjutnya, anak akan memahami tentang nilai tersebut dan menerapkan atau merefleksikan nilai tersebut pada realitasnya. Disinilah adanya pendidikan karakter dalam peran seorang ibu dalam mengawal pendidikan anaknya.

Menurut paulo freire,  proses pendidikan merupakan proses pembebasan bagi seorang manusia untuk mentukan realitasnya. Karena dialog merupakan metode yang tepat untuk mendapatkan pengetahuan, maka subjek harus memakai pendekatan ilmiah dalam berdialektika dengan dunia sehingga dapat menjelaskan realitas secara benar (politik pendidikan, paulo freire : 105). Maka dari itu, perlunya hubungan yang dialektis antara seorang ibu dengan anaknya. Hubungan dialektis ini berupa komunikasi antara keduanya agar anak tidak terkekang dalam memahami realitasnya. Dengan dialog atau komunikasi anatara orangtua dan anak akan lebih mudah membentuk karakter anak dalam memahami realitasnya, karena adanya proses saling memahami. Komunikasi ini sangat penting karena dengan komunikasi ini membuat orangtua memahami anak dan anak dapat memahami orangtuanya. Dengan komunikasi ini pula, seorang ibu tidak hanya mengajarkan kepada anaknya mana yang disebut dengan aturan yang menunjukan kebenaran dan keburukan. Akan tetapi dengan komunikasi antara ibu dan anak inilah yang membuat anak memahami mengapa aturan dibentuk dan apa yang sebenarnya arti dari kebenaran dan keburukan.

            Pentingnya peranan seorang ibu dalam pendidikan anak. Diperlukan seorang ibu yang cerdas dalam membentuk karakter anaknya. Pepatah “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” menjadi cerminan yang harus direfleksi pada proses pendidikan. Selain komunikasi antara ibu dan anak, perlu adanya desain yang dibentuk oleh seorang ibu yang menjadi pendidik bagi anaknya. Desain inilah yang akan mengantarkan anak pada passionnya dan membentuk anak pada karakter yang dapat memahami realitasnya. Dengan membuat desain, ibu akan mengarahkan anak agar menemukan secara langsung dari realitasnya. Ketika anak menemukan secara langsung realitasnya maka ia akan lebih mudah memberikan feedback terhadap apa yang ia pahami. Peranan seorang ibu yang dianggap lebih dekat dengan anak juga menjadi posisi yang strategis yang membuat anak akan lebih mudah merasa nyaman dalam pembentukan karakternya.

            Sekali lagi, peranan seorang ibu tidaklah mudah, seorang ibu memiliki posisi yang cukup penting dalam proses pendidikan seorang anak. Peranan seorang ibu sebagai pendidik harus mampu mengantarkan anaknya menjangkau knowledge, skill, dan psikologis (attitude). Tiga aspek inilah yang harus dicapai dalam pendidikan. Knowlegde sebagai alat agar anak mampu memahami realitas. Skill merupakan tindakan anak untuk menemukan realitas. Dan psikologis (attitude) merupakan karakter yang membuat anak mampu beradaptasi dengan realitasnya.
              Dalam Islam, posisi wanitu begitu dijaga. karena wanita merupakan calon ibu yang menjadi tonggak pendidikan bagi anaknya. wanita harus cantik dengan ilmu \(^_^)/ banyak tuntunan-tuntunan fiqih wanita dalam realitasnya dapat melindungi wanita. wanita yang menjadi seorang ibu tentulah harus cerdas dalam mendidik anaknya, dan cerdasnya tersebut ya karena ilmu :D
          Peranan penting seorang ibu ini juga telah di ungkapkan dalam surat Taha ayat 38 "(yaitu) Kami mengilhamkan ibumu sesuatu yang diilhamkan". selain itu dalam islam posisi seorang ibu sangat dimuliakan, yok cek Al-Qur'an surat Al-Isra ayat 24 : Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya denganpenuh kasih sayang dan ucapkanlah, "Wahai Tuhanku! sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil".
             Sebelum paulo freire muncul dengan pemikiran politik pendidikannya, Al-Qur'an sudah menjelaskan terlebih dahulu tentang pendidikan kepada anak dan membebaskan anak menemukan realitasnya sendiri. mari kita buka Al-Qur'an surat Al-Ankabut ayat 8 :" Dan Kami wajibkan kepada manusia agar (berbuat) kebaikan kepada kedua orangtuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau patuhi keduanya. Hanya kepada-Ku tempat kembali, dan akan Aku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan."
             Subhannallah yah, sesuatu banget peranan seorang ibu itu. Soooooooooo, cintailah ibu mu karena beliaulah yang memiliki peranan penting dalam pembentukan karaktermu sekarang. Love you mamaaaaah :D
              Dan jangan lupa, mari memantaskan diri untuk menjadi ibu yang baik dan benar dalam pembentukan karakter anak #ups :3

Tidak ada komentar:

Posting Komentar